PENGEMBANGAN KEDELAI
Benih dan Teknologi Ada, Tinggal Niat
(Oleh AGNES ARISTIARINI)
Pada tahun lalu,
harga kedelai tak terkendali karena kurangnya pasokan akibat kekeringan
yang melanda negara Amerika Serikat sebagai eksportir utama kedelai.
Sekarang pemicu tak terkendalinya harga kedelai adalah nilai rupiah yang
merosot terhadap dollar. Pemerintah tidak juga mengubah strateginya untuk mengatasi masalah ini, solusi yang diberikan pemerintah adalah membuka keran impor. Pemerintah mengatakan bahwa dengan dibukanya keran impor, maka semua importir boleh mendatangkan kedelai dari luar negeri, tidak
terbatas pada importir tertentu. Artinya, semakin banyak yang bisa
memasok kedelai ke tanah air, diharapkan stabilisasi harga kedelai bisa
tercapai. Akibatnya terjadi mogok produksi oleh pengusaha tahu dan tempe yang masih dapat berproduksi tetapi diabaikan oleh pemerintah. Padahal petani kedelai selama ini membudidayakan kedelai dengan kualitas yang tidak kalah dengan kedelai impor.
Indonesia juga punya potensi lahan luar biasa, beberapa petani persawahan, misalnya biasa menanam kedelai dengan pola padi-padi-kedelai untuk mengatisipasi kurangnya air pada musim kemarau dan sekaligus penyubur tanah alami. Namun pola ini mereka tinggalkan karena harga kedelai tidak memadai, sehingga para petani memilih menanam jagung atau buah yang bernilai ekonomi. Lahan pasang surut mencapai 20,1 juta hektar untuk saat ini dari jumlah itu 9,53 juta hektarnya cocok untuk usaha pertanian dan 2 juta hektar cocok untuk penanaman kedelai. Lahan pasang surut yang tersebar di Indonesia yaitu: di Sumatera 6,6 juta hektar, Kalimantan 8,1 juta hektar, Sulawesi 1,2 juta hektar, dan Papua 4,2 juta hektar. Dengan teknologi budidaya yang tepat, lahan pasang surut bisa meningkatkan ketersediaan pangan, terutama untuk kadelai. Maka ketergantungan impor akan berkurang dan petani pun dapat sejahtera.
Di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, ada seorang guru besar bernama Munif Ghulamahdi. Di kawasan pasang surut ia mengembangkan teknologi budidaya jenuh air, suatu sistem penanaman dengan memberikan irigasi secara terus menerus dengan tinggi muka air tetap agar lapisan di bawah perakaran jenuh air. Budidaya jenuh air mengatasi tingginya kadar pirit yang membuat tanah asam pada kondisi teroksidasi. Kadar pirit yang tinggi dapat menghambat produktivitas kedelai, dengan mengatur tinggi muka air ditambah olah tanah ringan dan pemberian kapur mampu mengatasi masalah pirit ini. Membudidayakan jenuh air, membuktikan tanaman kedelai sangat produktif dan bisa diandalkan di lahan pasang surut. Namun budidaya yang baik, hasil yang tinggi, dan animo petani untuk menanam kedelai masih belum cukup perlu adanya kerja sama dengan pemerintah. Pemerintah sebagai pengatur tata niaga kedelai, penjamin ketersediaan kebutuhan pangan, dan penanggung jawab utama kesejahteraan petani harus membuka hati yang selama ini hanya setuju kepada pengimpor kedelai dan pengusaha tahu tempe.
![]() |
| Budidaya Jenuh Air |
Di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, ada seorang guru besar bernama Munif Ghulamahdi. Di kawasan pasang surut ia mengembangkan teknologi budidaya jenuh air, suatu sistem penanaman dengan memberikan irigasi secara terus menerus dengan tinggi muka air tetap agar lapisan di bawah perakaran jenuh air. Budidaya jenuh air mengatasi tingginya kadar pirit yang membuat tanah asam pada kondisi teroksidasi. Kadar pirit yang tinggi dapat menghambat produktivitas kedelai, dengan mengatur tinggi muka air ditambah olah tanah ringan dan pemberian kapur mampu mengatasi masalah pirit ini. Membudidayakan jenuh air, membuktikan tanaman kedelai sangat produktif dan bisa diandalkan di lahan pasang surut. Namun budidaya yang baik, hasil yang tinggi, dan animo petani untuk menanam kedelai masih belum cukup perlu adanya kerja sama dengan pemerintah. Pemerintah sebagai pengatur tata niaga kedelai, penjamin ketersediaan kebutuhan pangan, dan penanggung jawab utama kesejahteraan petani harus membuka hati yang selama ini hanya setuju kepada pengimpor kedelai dan pengusaha tahu tempe.
Sumber : Koran Kompas (25 September 2013), hal.14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar