Kamis, 03 April 2014

TUGAS 2 BIBLIOGRAFI

BIBLIOGRAFI

1.    Pengertian Bibliografi

Kata bibliografi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata Biblion : yang berarti buku dan Graphein : yang berarti menulis, maka kata bibliografi secara harfiah berarti penulisan buku. Dalam hal ini maka bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan dari bibliografi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan.

2.    Jenis-Jenis Bibliografi

Jenis bibliografi yang dihasilkan dalam pembuatan publikasi sekunder akan tergantung pada jenis bahan pustaka yang akan didaftar. Misalnya akan dibuat daftar yang berasal dari deskripsi katalog buku yang dimiliki perpustakaan, maka daftar tersebut dapat dinamakan daftar katalog. Sementara jika daftar yang disusun berdasarkan judul artikel suatu majalah, maka daftar tersebut dapat disebut daftar isi.

Dari segi cara penyajian dan uraian deksripsinya, bibliografi dibagi menjadi 2 yaitu :

Bibliografi deskriptif
Bibliografi yang dilengkapi deskripsi singkat yang didapat dari gambaran fisik yang tertera atau tertulis dalam bahan pustaka. Seperti judul buku atau majalah, judul artikel, nama pengarang, data terbitan (impresum), kolasi serta kata kunci dan abstrak yang tertulis.

Bibliografi evaluatif
Bibliografi yang dilengkapi dengan evaluasi tentang suatu bahan pustaka. Evaluasi ini biasanya mencakup penilaian terhadap isi suatu bahan pustaka atau artikel.

3.    Cakupan Bibliografi

Dari segi cakupannya, bibliografi dapat dibagi menjadi:
Bibliografi retrospektif
Bibliografi yang mencatat bahan pustaka yang telah diterbitkan pada jaman yang lampau .
Bibliografi terkini/current
Bibliografi yang mencatat terbitan yang sedang atau masih terbit saat ini. Contohnya Ulrich's International Periodicals Directory.
Bibliografi selektif
Bibliografi yang mencatat terbitan tertentu dengan tujuan tertentu. Misalnya "Buku bacaan terpilih untuk anak usia pra sekolah".
Bibliografi subjek
Bibliografi yang mencatat bahan pustaka atau artikel pada bidang ilmu dan subjek tertentu. Misalnya "Bibliografi khusus ternak kelinci".
Bibliografi nasional
Bibliografi yang mencatat terbitan suatu negara atau daerah regional tertentu. Contohnya "Bibliografi Nasional Indonesia".

Penentuan cakupan/topik suatu bibliografi ditentukan berdasarkan berbagai pertimbangan antara lain:
-       Permintaan pengguna
-       Topik yang sedang berkembang atau yang banyak diperlukan saat itu
-       Dokumentasi koleksi yang dimiliki
-       Mandat instansi
-
Contoh pertimbangan yang dimaksud misalnya:

• Perpustakaan Balai Penelitian Tanaman Buah-buahan mendapat permintaan mengenai budidaya pisang barangan oleh sebagian besar pengguna, maka dibuat suatu daftar "Bibliografi khusus budidaya pisang barangan".

• Perpustakaan Direktorat Jendral Peternakan sesuai fungsi dan mandat instansi bermaksud mengkompilasi peraturan pemerintah dalam bidang kebijaksanaan peternakan dan veteriner, maka disusun suatu daftar: "Kumpulan peraturan pemerintah bidang peternakan dan kesehatan ternak".

4.    Bagian-Bagian Bibliografi

Suatu deskripsi bibliografi biasanya terdiri dari:

- Judul, berisi judul artikel atau judul buku yang akan dideskripsikan
- Kepengarangan, berisi nama pengarang perorangan atau pengarang badan korporasi
- Sumber, berisi judul jurnal, judul prosiding, atau judul buku dimana informasi tersebut berada.
- Data terbitan (impresum), berisi data tentang kota terbit, nama penerbit, dan tahun terbit.
- Keterangan fisik buku (kolasi), yang berisi halaman lokasi artikel ditemukan.
- Keterangan informasi, seperti kata kunci dan abstrak
- Keterangan tambahan, seperti lokasi rak penyimpanan, kode call number, perpustakaan pemilik bahan pustaka, dan sebagainya.


Contoh deskripsi bibliografi bahan pustaka:



5.    Manfaat Bibliografi

Pencatatan informasi mengenai koleksi perpustakaan dalam bentuk bibliografi dilakukan dengan berbagai alasan antara lain:
-       jumlah koleksi perpustakaan yang semakin meningkat bentuk dan bidang kajiannya
-       kebutuhan informasi para pengguna yang semakin beragam dan meningkat jumlahnya
-       upaya untuk meningkatkan kualitas layanan penelusuran informasi yang cepat dan tepat

Oleh karena itu, penyusunan suatu daftar bibliografi mempunyai fungsi utama untuk membantu pemakai mencari dan menelusuri informasi tertentu. Fungsi lain dari bibliografi adalah sebagai bagian dari jasa pelayanan perpustakaan kepada pemakai. Dengan menerbitkan suatu bibliografi, pustakawan dapat menawarkan koleksinya kepada pemakai tanpa harus mengeluarkan seluruh koleksi yang dimilikinya, serta dapat menjangkau pengguna yang tinggal jauh dari perpustakaan. Dengan demikian maka, bibliografi dapat digunakan sebagai:
-       Bahan rujukan terhadap koleksi perpustakaan
-       Daftar koleksi yang dimiliki perpustakaan
-       Daftar informasi bahan pustaka mengenai suatu bidang kajian tertentu, dan sebagainya. 


TAHAPAN PEMBUATAN BIBLIOGRAFI

1.    Penentuan Judul Bibliografi

Dalam merancang penyusunan daftar bibliografi, pustakawan perlu mempertimbangkan hal-
hal berikut ini:
- Tersedianya koleksi di perpustakaan
- Keterpakaian koleksi perpustakaan oleh pengguna
- Informasi yang paling banyak diminati berdasarkan permintaan pengguna
- Mandat instansi yang menggambarkan fungsi dan tugas pokok lembaga penaung perpustakaan

Perlunya dokumentasi informasi mengenai suatu bidang kajian/peristiwa/area tertentu. 
Sebagai contoh, dalam pembuatan bibliografi khusus, maka pertimbangan untuk menentukan
judul bibliografi dapat didasarkan pada:
     aspek komoditas tertentu yang dikumpulkan informasinya, contoh "bibliografi khusus kakao"
   cakupan-cakupan tertentu mengenai komoditas tersebut seperti budidaya tanaman yang meliputi: pengolahan tanah, pembibitan, pengairan, penyiangan, pemupukan, pemberantasan hama/penyakit, panen, pasca panen, pengolahan hasil, dan sebagainya. Contoh: "Bibliografi khusus budidaya tanaman kakao".
  cakupan waktu : artikel yang dikumpulkan datanya sebagai bahan bibliografi yang terbit pada periode tertentu, misalnya terbitan antara tahun 1990-2000.
  cakupan wilayah : semua artikel bahan bibliografi mengenai budidaya tanaman kakao yang diterbitkan atau dibudidayakan di Indonesia maupun di luar negeri. 

2.    Pengumpulan Bahan Pustaka / Penelusuran Informasi

Pengumpulan bahan informasi atau penelusuran dapat dilakukan dengan cara: 
- Penelusuran langsung ke sumber bahan informasi. Informasi yang ditelusur berupa buku, artikel dalam suatu buku, prosiding, kumpulan makalah atau dari majalah ilmiah.
- Penelusuran tidak langsung, yaitu dengan menggunakan bahan informasi sekunder. Seperti dari daftar bibliografi, daftar pustaka dalam artikel, dan sebagainya
 - Penelusuran melalui pangkalan data elektronis. 

Artikel yang berhasil ditelusur dilakukan pencatatan data bibliografisnya. Keterangan yang harus dicatat antara lain:
- Nama pengarang,
- Judul buku atau artikel
- Sumber informasi, mencakup: judul buku, prosiding atau judul majalah,
- Data fisik buku, seperti keterangan halaman (kolasi)
- Data terbitan (impresum), yaitu nama penerbit, kota terbit dan tahun terbit
- Keterangan lain, yang dipakai sebagai rujukan bagi pengguna untuk mengetahui keberadaan bahan pustaka yang bersangkutan
-  Memperhatikan cakupan waktu terbit suatu artikel, misalnya terbitan antara tahun 1990-2000

Artikel tersebut kemudian dicatat pada satu lembar/buram bibliografi. Contoh penulisan deskripsi artikel hasil penelusuran:


3.    Seleksi Bahan Pustaka

Seluruh artikel yang berhasil ditelusur kemudian dikumpulkan untuk dilakukan proses pemilihan/seleksi agar didapat kumpulan yang sesuai dengan topik/judul yang telah ditentukan. Untuk menyeleksi informasi yang sesuai, pustakawan harus mengetahui pula sinomin suatu komoditas, seperti nama dalam bahasa Latinnya, nama-nama daerah/lokal, ataupun produk olahan suatu komoditas. Contoh : nama-nama sinonim untuk kakao adalah Theobroma cacao, cocoa, kakao lindak, coklat, chocholate, dan sebagainya. Pada proses ini dilakukan pemilihan terhadap artikel yang sesuai dengan pokok permasalahan. Contohnya :


Artikel ini tidak dipilih sebagai bahan bibliografi, karena cakupan waktu terbit terlalu lama (tahun 1986).


Artikel ini tidak dijadikan bahan bibliografi khusus yang akan dibuat, karena kakao yang ditelaah dalam artikel tersebut, bukan mengenai budidaya kakao melainkan dipandang sebagai limbah pertanian yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  

4.    Pengelompokan / Klasifikasi

Untuk membentuk suatu daftar bibliografi yang tersusun secara sistematik, pengelompokan bahan informasi/artikel harus dilakukan agar artikel dengan subjek yang sama akan terkumpul secara berdekatan. Klasifikasi yang dipakai dapat ditentukan lebih dulu. Klasifikasi tersebut dapat berupa klasifikasi notasi angka, klasifikasi subjek, subjek verbal, atau campuran. Misalnya pengelompokan sistem klasifikasi notasi angka (UDC atau DDC) untuk daftar katalog buku, sistem klasifikasi AGRIS, sistem subjek, dan sebagainya.

Contoh Bibliografi khusus budidaya tanaman kakao, yang dikelompokkan berdasarkan kategori subjek verbal seperti: pengolahan tanah, pembibitan, pengairan, pemupukan, penyiangan, pemberantasan hama dan penyakit, panen dan pasca panen, dan sebagainya. Atau pengelompokam sesuai bidang ilmu yang biasa dipakai suatu instansi, misalnya PUSTAKA yang memakai klasifikasi AGRIS, contohnya: E21: F01; F04; H10 dan seterusnya.

Contoh pengelompokan artikel berdasarkan subjek:



Seluruh bahan bibliografi yang telah dikelompokkan berdasarkan subjek, kemudian diurutkan berdasarkan urutan abjad nama pengarang. Kegiatan ini disebut "filing". Hasil kegiatan ini akan diperoleh urutan bahan bibliografi yang terkelompok berdasarkan subjek, dan dalam kelompok subjek akan terurut berdasarkan abjad nama pengarang.

5.    Pembuatan Kata Kunci

Tujuan pembuatan kata kunci adalah untuk menggambarkan konsep-konsep pengetahuan yang dibahas di dalam artikel tersebut, sehingga pembaca dapat memahami isi pokok tulisan tersebut. Kata kunci juga dipakai untuk memudahkan penelusuran informasi yang telah dikumpulkan dalam daftar bibliografi. Kata kunci dapat dipilih dari judul artikel yang tertulis, dari abstrak, atau dari dalam artikel itu sendiri baik dari metodologi, hasil, kesimpulan termasuk tempat dan waktu. Kata kunci yang dipilih adalah suatu kosa kata yang menggambarkan suatu pokok permasalahan, dengan menggunakan kata-kata berdasarkan cabang ilmu pengetahuan atau subjek tertentu yang telah dikenal secara umum.

Contoh : Kakao, Karet, Padi, Jagung, Budidaya, Pemuliaan, Plasma nuftah, Pertanaman, dan sebagainya.


6.    Penyusunan Indeks

Indeks berarti penunjukkan. Indeks merupakan suatu daftar petunjuk letak kata, konsep, dan istilah lain yang terdapat dalam suatu terbitan. Indeks disusun menurut abjad dan merujuk ke artikel dimana kata, konsep, atau istilah tersebut dibahas. Dengan demikian tujuan penyusunan indeks pada suatu terbitan atau dalam bibliografi adalah untuk mempermudah pengguna menemukan kembali istilah yang terdapat pada daftar bibliografi yang disusun. Indeks biasanya dikumpulkan dari kata kunci dan nama pengarang. Istilah lain yang ingin disajikan sebagai rujukan dapat juga dikumpulkan, misalnya lokasi geografi, judul majalah, nama badan penerbit, dan sebagainya.

Cara membuat daftar indeks dapat dilakukan sebagai berikut:
- setiap kata kunci, nama pengarang, dan lokasi geografi didaftar ke dalam lembar tersendiri
- tiap istilah indeks diikuti nomor urut artikel/nomor entri
- istilah indeks disusun berdasarkan abjad untuk setiap kelompok indeks

7.    Pengetikan Naskah Bibliografi

Kumpulan artikel yang telah disusun menurut klasifikasi dan abjad pengarang serta telah dilengkapi dengan daftar indeks, kemudian dilakukan pengetikan naskah bibliografi. Pengetikan naskah secara manual dapat menggunakan sarana yang ada di perpustakaan. 

a. Penulisan Nama Pengarang

Nama pengarang artikel ditulis dengan prinsip pembalikan nama atau inverted name (sesuai dengan peraturan AACR II). Nama yang dibalik diberi tanda baca koma dan unsur nama yang dibalik penulisannya disingkat dan diikuti tanda baca titik. Nama yang tidak dibalik diberi tanda hubung.
Contoh: 

Tujuan penulisan ini adalah agar pada saat penyusunan indeks nama pengarang, diperoleh urutan yang benar dan konsisten.

b. Penulisan Judul Artikel

Judul artikel ditulis sebagaimana aslinya yang tercantum pada bahan pustaka yang didata. Usahakan tidak ada singkatan atau istilah yang tidak umum. Istilah tidak umum dapat ditambahkan pengertiannya, yang ditulis dalam tanda kurung siku (tanda […], yang berarti bahwa setiap kata di antara tanda kurung siku tersebut merupakan tambahan oleh pengindeks).

Contoh :


c. Penulisan Sumber Bahan Pustaka

Sumber dimana suatu artikel ditemukan juga dicantumkan dalam penulisan data bibliografi. Jika suatu artikel diperoleh dari majalah, maka :
• judul majalah ditulis lengkap ditulis dalam huruf miring,
• diikuti keterangan terbitan secara berurutan yang mencakup volume, nomor terbitan (ditulis dalam tanda kurung), dan tahun terbit. Seluruh keterangan angka tersebut ditulis dalam huruf arab (1, 2, 3, dst)
• jika suatu majalah tidak memuat volume, maka penulisan nomor ditambahkan kode "no."
• Kemudian dituliskan keterangan halaman. Kode halaman dapat menggunakan huruf H (untuk halaman "h.") atau huruf P (untuk page "p."). Karena merupakan hasil penyingkatan kata, maka setiap kata yang disingkat mencantumkan tanda titik disetiap akhir huruf.

Contoh:

Pelita Perkebunan, 10 (1), 1994: p. 14-20
Majalah Kimia, (no. 56), 1996: h. 26-28

Sementara jika suatu artikel diperoleh dari suatu prosiding atau buku, maka ditulis:

• judul buku/prosiding atau monografnya dicantumkan dengan menambahkan kata "Dalam" yang berarti bahwa artikel tersebut diperoleh dalam buku tersebut.
• Diikuti keterangan penerbitan yang mencakup kota terbit, nama penerbit, dan tahun terbit
• Keterangan halaman

Penyusunan seluruh data bibliografi yang ditulis mengikuti urutan :

I. Berdasarkan klasifikasi/atau subjeknya
II. Berdasarkan urutan abjad nama pengarang
III. Berdasarkan urutan abjad judul artikel (dilakukan jika terdapat satu orang pengarang yang sama menulis beberapa artikel yang berbeda).

Perihal teknis pengetikan, seperti pemilihan ukuran kertas, besar huruf, jenis huruf dan sebagainya disesuaikan dengan keinginan setiap perpustakaan karena penyusunan bibliografi melibatkan pula segi seni penyajian informasi agar menarik minat pembaca. Sehingga masalah tata letak dan perwajahan naskah (lay-outing) dapat disesuaikan dengan keinginan setiap perpustakaan untuk menunjukkan kreativitasnya.

Penulisan naskah dapat ditulis secara berbaris dalam satu atau dua kolom tulisan. Penulisan dalam satu kolom kemungkinan besar mempertimbangkan banyaknya data/informasi yang tercakup dalam satu buah entri/artikel. Misalnya suatu daftar biliografi yang disertai abstrak ditulis dalam satu kolom sedangkan suatu daftar indeks artikel dapat ditulis dalam dua kolom, karena cakupan informasinya cukup singkat. Kelengkapan lain dalam satu lembar naskah bibliografi dapat pula dilengkapi dengan judul lelar (running title) atau dengan catatan kaki (foot note). Setelah materi bibliografi selesai dikerjakan, maka pengetikan naskah diikuti dengan penyusunan indeks pengarang, indeks subjek, dan indeks geografi.

 8.    Pemeriksaan Naskah Akhir Bibliografi

Naskah akhir bibliografi yang siap dipublikasikan, terlebih dahulu harus diperiksa kembali. Pemeriksaan akhir mencakup :
• Pemeriksaan tulisan dari kesalahan ejaan dan tanda baca
• Kesesuaian penyingkatan dan pembalikan nama pengarang
• Penulisan dengan huruf miring untuk kata-kata latin dan judul majalah
• Kelengkapan data artikel yang dijadikan bahan bibligrafi
• Pemeriksaan kesesuaian indeks dengan nomor entri yang dirujuk
• Pemeriksaan letak perwajahan /tata letak (lay-outing) setiap bagian tulisan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar